Langkah Kecil Elnathan, Merawat Keberagaman Lewat Seni Tari di Sleman
- Nov 22, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Seni Budaya
Sleman - Sebagai siswa keturunan Tionghoa di SD Budi Utama Sleman, Elnathan menemukan jati diri sekaligus ruang perjumpaan budaya melalui pendidikan seni tari. Di balik langkah-langkah gemulainya, tersimpan proses panjang tentang keberanian, keterbukaan, dan pentingnya merawat keberagaman sejak usia dini.
Kemampuan Elnathan dalam menari ditunjukkan saat menjadi bintang tamu acara peringatan hari ulang tahun ke-7 Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi sekaligus peluncuran buku antologi cerkak “Nyecep Banyu Panguripan” di Pendhapa Pagelaran Puri Mataram, Sleman, Sabtu (22/11/2025).
Di tengah dinamika masyarakat Sleman yang multikultural, seni tari kembali menemukan perannya sebagai medium pemersatu. Kisah Elnathan, siswa kelas IV SD Budi Utama Sleman yang berdarah Tionghoa, memperlihatkan bagaimana seni dapat membuka ruang dialog antar etnis tanpa batas. Langkah-langkah kecilnya di ruang latihan menjadi simbol bahwa gerak tari mampu menjembatani banyak perbedaan.
Ketertarikan Elnathan pada seni tari berawal dari kekagumannya saat melihat pentas sekolah dua tahun lalu. Ia terpukau oleh ragam warna kostum dan cerita yang disampaikan lewat setiap gerakan. Dari rasa penasaran itu, ia mulai bergabung dalam Yayasan Siswa Among Beksa Yogyakarta dan menemukan bahwa dunia yang ia masuki bukan sekadar soal seni, namun juga ruang bagi identitasnya untuk tumbuh.
Sebagai anak keturunan Tionghoa, Elnathan tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tradisi leluhur. Namun, ia juga hidup di tengah masyarakat Jawa yang penuh tradisi. Di sekolah dan di rumah lewat pembelajaran tari, ia mengenal budaya-budaya Nusantara dengan cara yang hangat dan menyenangkan. Pemahamannya tentang kebhinnekaan tumbuh dari pengalaman langsung, bukan hanya dari pelajaran di kelas.
Orang tua Elnathan mengakui bahwa pendidikan seni telah membawa perubahan besar pada diri anak mereka. Dari anak yang pemalu, ia menjadi lebih berani bersosialisasi, mampu bekerja sama, serta disiplin dalam mengelola waktu antara latihan dan belajar. Mereka melihat bahwa seni tari bukan hanya kegiatan tambahan, melainkan sarana pendidikan karakter yang tak tergantikan.
Bagi Elnathan, latihan tari membantu mengalihkan waktu dari gawai menuju aktivitas kreatif yang membangun kepekaan rasa. Di balik rutinitas latihan, tersimpan pelajaran tentang kesabaran, kerja keras, dan kegigihan sebagai nilai-nilai yang krusial di tengah gempuran teknologi.
Perjalanan Elnathan mungkin baru dimulai, tetapi dampaknya terhadap dirinya dan lingkungan sekolah terasa nyata. Ia tumbuh sebagai pribadi yang terbuka, toleran, dan bangga terhadap keberagaman budaya yang ia hidupi. Ceritanya menjadi pengingat bahwa pendidikan seni tari adalah investasi penting untuk membentuk generasi yang kreatif sekaligus memahami bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan pembatas. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)