Lewat FGD SAH Banyu Bening Sleman dan Akademisi Dorong Kesadaran Proklim

  • Sep 18, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Lingkungan Hidup

Sleman – Kolaborasi Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Ahmad Dahlan terjalin dalam Focus Group Discussion (FGD) dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia program kampung iklim di Semanak Warung dan Kopi, Bantul, Kamis (18/9/2025).

Dengan pendekatan dialogis, para peserta diajak mendalami peran masyarakat dalam menjaga lingkungan dan menguatkan aksi mitigasi perubahan iklim. FGD menjadi sarana penting karena menghadirkan ruang untuk menyatukan pandangan, menyampaikan aspirasi, sekaligus merumuskan strategi bersama.

Dalam sambutan pembukanya, Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul, Ludvika Ika Wulandari menekankan perlunya kesadaran masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim. Menurutnya, program kampung iklim (Proklim) sebagai program nasional membutuhkan keterlibatan aktif dari warga, akademisi, dan komunitas.

“Melalui forum diskusi ini, ide-ide baru dan pengalaman lokal dapat dipadukan untuk memperkaya langkah nyata di lapangan,” ucap Wulandari.

Sementara itu, fasilitator dari Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih mengatakan FGD bukan sekadar forum bicara, melainkan wadah pembelajaran kolektif. Setiap peserta diajak untuk menilai kondisi lingkungan sekitar, mengidentifikasi tantangan, serta mencari solusi berbasis kearifan lokal. Pendekatan partisipatif inilah yang diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan program Kampung Iklim di berbagai daerah.

Salah satu isu yang banyak dibicarakan adalah pengelolaan air hujan. Wahyuningsih menekankan bahwa air hujan bukan sekadar sumber cadangan, namun sebagai kunci ketahanan masyarakat dalam menghadapi kekeringan.

“Dengan memanfaatkan teknologi sederhana seperti penampungan dan elektrolisa maka air hujan bisa diolah menjadi sumber air bersih sekaligus mengurangi tekanan pada air tanah,” tandasnya.

Lebih lanjut, Kepala Bidang Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul, Woro Suryani menyampaikan apresiasi kepada para penggiat lingkungan dan menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan program kampung iklim.

Woro mengingatkan bahwa kolaborasi lintas sektor harus terus diperkuat. Pemerintah daerah, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha memiliki peran strategis dalam memberikan dukungan baik berupa kebijakan, pendampingan, maupun inovasi teknologi. Dengan adanya dukungan multipihak, upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dapat berjalan lebih efektif dan berkesinambungan.

Ia pun mendorong masyarakat untuk menjadikan Proklim sebagai gerakan budaya yang tumbuh dari kesadaran bersama. Tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga membangun ketahanan sosial dan ekonomi warga. Dengan semangat gotong royong dan inovasi lokal, diharapkan kampung-kampung menjadi contoh nyata bagaimana komunitas mampu menghadapi perubahan iklim secara mandiri.

“Karena itu, membangun jejaring antar komunitas menjadi kunci dalam mempercepat gerakan kampung iklim yang berkelanjutan,” tegasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)