Menjadi Sehat Dengan Syariat, Ingatkan Tubuh Sebagai Amanah Ilahi
- Aug 03, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Keagamaan
Sleman – Untuk membangun kesadaran umat bahwa kesehatan bukan hanya urusan medis saja, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab keimanan, Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) Banyuraden menggelar kegiatan edukasi dan sosialisasi bertajuk sehat dengan syariat yang berlangsung di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Minggu (3/8/2025).
Melalui pendekatan religius dan ilmiah yang disampaikan oleh dr. Muhammad Nashih Ulwan yang kesehariannya sebagai dokter umum di Pondok Pesantren Bina Umat, peserta diajak memahami bahwa menjaga tubuh merupakan bentuk amanah dari Allah SWT yang wajib dipelihara. Sehingga, perilaku sehat tidak lagi dianggap sebagai pilihan duniawi semata, melainkan sebagai wujud ibadah dan syukur atas nikmat jasmani.
Dalam edukasinya mengenai pola hidup sehat, dr. Ulwan memberikan contoh yang telah dilakukan Rasulullah SAW. Dari kebiasaan makan yang teratur dan sederhana, tidur yang cukup, hingga kebersihan diri, semua menjadi teladan yang sesuai dengan prinsip kesehatan modern. Kajian ini memberi ruang bagi umat untuk belajar langsung dari sunnah Nabi yang aplikatif dan terbukti secara ilmiah memberikan manfaat besar bagi tubuh.
Menurutnya, merawat tubuh dengan baik merupakan wujud tanggung jawab dan bentuk ibadah. Ia pun menekankan bahwa konsep sehat dalam Islam jauh melampaui sekadar bebas dari penyakit, namun juga mencakup kebugaran, ketenangan hati, dan keseimbangan hidup sesuai nilai-nilai syariat.
“Nabi itu tidak makan kecuali lapar, dan beliau jika makan tidak sampai kenyang. Pola makan tersebut, kini terbukti secara ilmiah mampu mencegah obesitas, diabetes, dan gangguan metabolik lainnya,” terang dr. Ulwan dihadapan peserta.
Selain itu, menjaga gaya hidup sehat dapat merangsang produksi hormon endorfin yang menjadi salah satu cara alami untuk mendukung keseimbangan fisik dan emosional dalam kehidupan sehari-hari. Hormon endorfin dikenal sebagai hormon kebahagiaan karena perannya dalam menciptakan perasaan senang, nyaman, dan tenang.
Sementara itu, mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta kelompok 7 yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Padukuhan Sukunan, Kalurahan Banyuraden yang mengikuti kajian seroja dapat bertambah wawasannya. Melalui keikutsertaan ini, mahasiswa menyaksikan bagaimana pendekatan agama digunakan sebagai alat pemberdayaan yang membumi dan aplikatif. Lewat perpaduan dakwah, edukasi kesehatan, dan kebersamaan lintas usia, mereka mengetahui gambaran utuh tentang bagaimana masyarakat membangun kehidupan spiritual yang relevan dengan tantangan zaman.
Keterlibatan ini pun menjadi sarana pembelajaran lintas disiplin yang sangat penting bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga dapat terlibat aktif dalam proses edukasi, dokumentasi kegiatan, hingga menyusun materi atau media yang membantu keberlangsungan program komunitas. Pengalaman ini memperkuat soft skill seperti komunikasi, kolaborasi, serta pengorganisasian kegiatan di tengah masyarakat yang heterogen.
Kajian Seroja kali ini bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga mengubah perspektif banyak jamaah tentang hubungan antara agama dan kesehatan. Bahwa hidup sehat bukan sekadar untuk bekerja lebih giat atau berumur panjang, namun sebagai bentuk syukur atas nikmat jasmani yang harus dijaga dan digunakan untuk ibadah.
dr. Ulwan berpesan agar jamaah tidak menjadikan gaya hidup Islami sebagai beban, tetapi sebagai bagian dari rasa cinta pada diri dan Sang Pencipta. “Syariat itu bukan membatasi, tapi membimbing. Termasuk dalam urusan makan, istirahat, dan bersosialisasi,” tutupnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)