Pasar Bekas Timbunan Sampah Jadi Ruang Edukasi dan Gerakan Pelestarian Bumi
- Oct 13, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Lingkungan Hidup
Sleman - Aroma perubahan mulai terasa dari tempat yang dulu dikenal sebagai lahan kumuh penuh tumpukan sampah rumah tangga. Kini, area itu menjelma menjadi ruang edukasi lingkungan yang menyejukkan mata. Lantaran masyarakat dusun Keramat mengubah “bekas luka bumi” menjadi laboratorium hidup bagi pelestarian alam.
Melalui semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan, masyarakat setempat berhasil mengubah bekas timbunan sampah menjadi ruang publik bernama Pasar Keramat sebagai pusat kegiatan sosial, budaya, dan ekologi yang mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal.
Kisah inspiratif ini terungkap dalam podcast di Pasar Keramat Mojokerto, Senin (13/10/2025) bertema “Gerakan Satu Bumi” yang dipandu oleh Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih. Hadir sebagai narasumber, Cak Sahlan dari Yayasan Lestari, beserta Amin Aminudin dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Menurut Cak Sahlan, transformasi ini berawal dari keresahan terhadap praktik budaya yang hanya muncul pada momen-momen tertentu, seperti peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus maupun bulan Suro. Ia bersama rekan-rekannya berupaya menghidupkan kembali budaya lokal agar menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
“Kami ingin lokalitas tetap terjaga dan masyarakat berdaulat secara berkeadilan,” ucapnya.
Selain itu, masyarakat mempraktikkan konsep pelestarian lingkungan dengan pendekatan sosial dan budaya. Misalnya tidak ada penggunaan plastik, dan terdapat lebih dari 138 menu lokal tanpa bahan pengawet, ataupun monosodium glutamate (MSG) sebagai bentuk ketahanan dan kedaulatan pangan.
Sebagai ruang edukasi hijau, Pasar Keramat memiliki konsep sederhana yakni menjadi pusat pembelajaran mengenai pengelolaan sampah, konservasi air, dan pemanfaatan kembali limbah rumah tangga. Termasuk, warga memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan seni, menanam tanaman obat keluarga di bekas lahan bakar, dan membangun taman kecil dari ban bekas.
Uniknya, sebagian hasil penjualan dagangan pasar mereka sisihkan untuk zakat. Bagi warga yang hafal kitab Al Qur’an diperbolehkan makan gratis. Sikap ini mencerminkan nilai keadilan dan spiritualitas yang dijunjung tinggi.
Cak Sahlan pun menyebutkan perempuan memiliki peran penting dalam gerakan ini karena keseharian mereka erat dengan aktivitas rumah tangga yang menghasilkan sampah. “Ketika perempuan diberi ruang untuk berkarya dan dihormati, mereka justru bergerak lebih cepat daripada laki-laki,” ujarnya.
Keadaan berbeda dialami Amin Aminudin dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang mengaku mendapat banyak pelajaran dari kunjungan di Pasar Keramat. Awalnya, ia bermaksud memberikan edukasi tetapi justru dirinya yang mendapatkan Pelajaran baru yang baik untuk bisa diduplikasi di daerah lain.
Gerakan Pasar Keramat membuktikan bahwa menjaga bumi bukan hanya tanggung jawab pemerintah ataupun aktivis lingkungan saja, tetapi tugas bersama seluruh manusia. Melalui budaya, gotong royong, dan kesadaran ekologis, masyarakat Dusun Keramat berhasil menjadikan ruang kecil di desanya sebagai simbol harmoni antara manusia dengan alam. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)