75 Siswa KB-TKIT Baiturrahim Sleman Sambangi SAH Banyu Bening

  • Nov 27, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Lingkungan Hidup

Sleman – Kunjungan siswa Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (KB–TKIT) Baiturrahim, Ngaglik, Sleman ke Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman, pada Kamis (27/11/2025) menjadi ruang belajar yang berbeda dari kegiatan kelas pada umumnya.

Anak-anak yang masih berada pada tahap awal perkembangan itu diajak Kepala Sekolah TKIT Baiturrahim Sleman, Halwiyah, untuk menyentuh, merasakan, dan mengamati air hujan sebagai anugerah alam. Pembelajaran semacam ini memberikan pijakan awal bagi siswanya untuk memahami bahwa alam bukan sekadar latar, melainkan bagian penting dari kehidupan.

Di Joglo SAH Banyu Bening, 75 siswa yang di dampingi orang tuanya, 11 anggota Komite Sekolah dan delapan guru dikenalkan pada proses penampungan dan pemanfaatan air hujan. Mereka melihat bagaimana air yang jatuh dari langit dapat disaring, dikumpulkan, dan digunakan kembali. Aktivitas sederhana ini memberi gambaran nyata bahwa setiap tetesan air memiliki nilai.

“Ketika anak-anak menyaksikan langsung proses alam, rasa ingin tahu mereka tumbuh alami dan mendorong pemahaman yang lebih dalam tentang konsep konservasi,” ucap Halwiyah dalam sambutannya.

Founder SAH Banyu Bening, Sri Wahyuningsih memberikan penjelasan dengan bahasa yang ringan, ramah, dan sesuai usia. Tidak ada istilah teknis yang rumit, ia hanya bercerita tentang bagaimana air hujan bisa menjadi sahabat manusia.

Ketika anak-anak melihat bak penampungan, pipa-pipa kecil, hingga alat penyaring air, mereka diajak memahami bahwa alam menyediakan banyak hal baik jika dijaga dan digunakan dengan bijak.

“Pendekatan ini membuat mereka merasa dekat dengan alam tanpa merasa sedang belajar secara formal,” tandasnya.

Menurut Wahyuningsih, kegiatan eksplorasi air hujan juga dirancang untuk menumbuhkan kepekaan empati. Anak-anak diajak menimbang bahwa di tempat lain, ada saudara-saudara sebaya mereka yang kesulitan mendapatkan air bersih.

Dengan cara yang halus, mereka dipandu untuk menghubungkan pengalaman pribadi dengan realitas sosial. Dari sinilah benih empati ditanam, bukan melalui ceramah, tetapi melalui pengalaman konkret yang mudah mereka cerna.

Sementara itu, Anik Sri Wahyuni selaku Wakil Kepala Sekolah bersama guru lainnya selaku pendidik KB–TKIT Baiturrahim menyadari bahwa usia dini merupakan fase emas bagi pembentukan karakter, termasuk kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Karena itu, mengenalkan manfaat air hujan bukan hanya terkait aspek sains, namun juga bagian dari pendidikan nilai.

Di SAH Banyu Bening Sleman, anak-anak belajar bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan baik untuk diri sendiri maupun orang lain demi memahami hubungan sebab-akibat sejak dini.

Kunjungan ini memperkuat kolaborasi antara lembaga pendidikan anak usia dini dengan komunitas lingkungan di Sleman. Sekolah Air Hujan Banyu Bening menjadi mitra yang relevan dalam memperkenalkan isu air bersih, keberlanjutan, dan cinta alam sejak dini. Sementara pihak KB–TKIT Baiturrahim mendapatkan pengalaman pembelajaran luar ruang yang autentik dan bermakna bagi para siswanya. Kunjungan ke sekolah non formal ini menjadi contoh nyata bagaimana pembelajaran berbasis pengalaman mampu melekat kuat dalam ingatan anak-anak. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)