PW Pergunu DIY 2026–2031 Resmi Dilantik, Perkuat Profesionalisme Guru dan Khidmat Pendidikan

  • Jul 05, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Pendidikan

Sleman — Kepengurusan Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk masa khidmat 2026 – 2031 resmi dilantik dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Gedung Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (5/7/2026) disaksikan oleh para ulama, akademisi, serta jajaran pimpinan badan otonom Nahdlatul Ulama. 

Momentum pelantikan tersebut menjadi penanda dimulainya kepengurusan baru sekaligus ajang mempertegas kembali peran strategis para pendidik dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional serta memperkokoh komitmen terhadap penguatan kedaulatan bangsa.

Ketua Pimpinan Wilayah Pergunu DIY terpilih, Dr. H. Fauzan Satyanegara, menegaskan bahwa pelantikan kepengurusan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum untuk mengukuhkan komitmen pengabdian yang dijalankan secara terencana, sistematis, dan berkesinambungan. Menurutnya, kepengurusan baru akan memprioritaskan penguatan konsolidasi organisasi, penyusunan program kerja yang terarah dan terukur, serta pengembangan berbagai langkah strategis guna meningkatkan kompetensi dan profesionalisme para guru.

“Pergunu DIY harus menjadi rumah besar bagi seluruh guru, tempat bertumbuhnya semangat pengabdian, penguatan profesionalisme, serta lahirnya perjuangan bersama untuk memajukan kualitas pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari organisasi inilah kita ingin membangun ekosistem yang mendorong para pendidik terus berkembang, saling menguatkan, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa,” tegas Dr. Fauzan dalam sambutannya.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY, Dr. KH. Muhajir, mengajak jajaran kepengurusan yang baru untuk memperkuat soliditas organisasi dan menjaga konsistensi pengabdian dalam memajukan pendidikan Nahdlatul Ulama. Ia mengidentifikasi tiga isu strategis yang perlu menjadi perhatian bersama, yaitu pembenahan paradigma mengenai makna khidmat agar tidak dipahami secara sempit dan bertentangan dengan nilai profesionalisme, peningkatan tata kelola organisasi yang sinergis sehingga tidak memunculkan ego sektoral antara Lembaga Ma'arif dan Pergunu, serta penguatan aspek spiritualitas sebagai landasan moral dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab organisasi.

“Jati diri pendidik Nahdlatul Ulama harus tetap berakar pada spiritualitas dan ruh perjuangan yang diwariskan oleh para muasis pesantren. Kemajuan teknologi dan digitalisasi adalah keniscayaan yang harus kita kuasai, tetapi jangan sampai membuat kita kehilangan identitas atau sekadar silau terhadap perkembangan zaman. Justru nilai-nilai itulah yang menjadi fondasi dalam menjalankan tugas sebagai pendidik,” tegas Dr. Muhajir.

Ia pun menyampaikan bahwa Pergunu memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki badan otonom NU lainnya, karena hingga hari ini masih memperoleh pembinaan langsung dari putra muasis Nahdlatul Ulama, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim. Menurutnya, warisan historis dan moral tersebut harus menjadi sumber inspirasi untuk terus memperkuat organisasi, meningkatkan profesionalisme guru, serta mengabdikan diri bagi kemajuan pendidikan dan kemaslahatan umat.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pergunu, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim dalam pembekalannya menjelaskan latar belakang sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama yang tak lepas dari peran pesantren sebagai pusat perlawanan terhadap kolonialisme. Berdirinya Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 melalui samaran Komite Hijaz memiliki dua tujuan utama yakni memelihara paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang inklusif serta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan fisik para santri memuncak saat dikeluarkannya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dan pertempuran 10 November di Surabaya yang dipimpin secara spiritual oleh Kiai Abbas Abdul Jamil dari Buntet hingga gugurnya 30.000 santri demi mempertahankan kedaulatan.

“Untuk membawa Indonesia menjadi negara maju, adil, dan makmur, syaratmya harus ada ulama dan ilmuwan besar yang aktif menerangi masyarakat, birokrat yang murni berorientasi pada rakyat, konglomerat nasionalis yang dermawan, serta kaum profesional berkualitas,” tandas Prof. Asep Saifuddin.

Dalam arahannya, ia menegaskan pentingnya setiap guru yang tergabung dalam Pergunu memiliki lima karakter utama sebagai landasan dalam menjalankan profesi pendidik. Kelima karakter tersebut meliputi komitmen untuk terus meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan, tanggung jawab dalam menyampaikan materi pembelajaran hingga benar-benar dipahami peserta didik, keteladanan akhlak sebagai uswah hasanah, kepedulian terhadap peserta didik layaknya anak sendiri, serta keistiqamahan dalam mendoakan keberhasilan dan kebaikan para murid.

Selain menekankan karakter yang harus dimiliki pendidik, Prof. Asep Saifuddin juga menguraikan sejumlah prinsip yang perlu ditanamkan kepada peserta didik sebagaimana termaktub dalam kitab Ta'limul Muta'allim. Prinsip-prinsip tersebut meliputi ketekunan dan konsistensi dalam menuntut ilmu (al-jiddu wal muwadzabah), membiasakan pola hidup sederhana dengan mengendalikan asupan makanan agar tidak menimbulkan kemalasan (taklilul ghiza), menjaga kesucian melalui istikamah berwudu, menjauhi perbuatan maksiat, membiasakan membaca Al-Qur'an secara visual sebagai sarana melatih daya pikir dan kecerdasan, menghidupkan ibadah salat malam, serta menerapkan kedisiplinan dalam menjaga pola konsumsi dengan tidak membeli makanan secara sembarangan di luar lingkungan yang terjamin kebersihan dan kehalalannya. (Adnan Nurtjahjo|Kim Pararta Guna Gamping)