SAH Banyu Bening Sleman Jadi Laboratorium Edukasi Lingkungan SMP Muhammadiyah 1 Wates

  • Jan 21, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Pendidikan, Lingkungan Hidup

Sleman – Sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual untuk memperluas wawasan mengenai isu lingkungan dan ketahanan air, kepala sekolah bersama komite sekolah, guru, karyawan, dan pengurus ikatan pelajar muhammadiyah SMP Muhammadiyah 1 Wates melakukan kegiatan studi tiru terkait pengelolaan dan pemanfaatan air hujan sebagai sumber air bersih yang aman dan berkelanjutan di Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, Tempursari, Kabupaten Sleman, Rabu (21/1/2026).

Kepala SMP Muhammadiyah 1 Wates, H. Agus Wiratna menyampaikan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari silaturahmi sekaligus thalabul ilmi untuk menambah wawasan dalam pengelolaan air hujan.

Ia pun mengatakan, pembelajaran di luar kelas seperti ini efektif menumbuhkan pemahaman holistik siswa. Tidak hanya memperkaya pengetahuan, namun juga membentuk sikap kritis dan kepedulian terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, khususnya terkait ketersediaan air bersih.

“Selama ini, air hujan di lingkungan SMP Muhammadiyah 1 Wates belum dimanfaatkan secara optimal dan justru kerap menimbulkan genangan akibat sistem drainase yang kurang lancar,” terangnya.

Melalui studi tiru ini, pihaknya berharap memperoleh pengetahuan yang dapat diterapkan di sekolah sehingga air hujan tidak lagi dipandang sebagai sumber masalah, melainkan sebagai anugerah yang membawa manfaat.

Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih mengenalkan secara langsung praktik pemanenan air hujan (rainwater harvesting) yang telah diterapkan secara sistematis dan berbasis edukasi di Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Warga SMP Muhammadiyah 1 Wates diajak memahami bahwa air hujan bukan sekadar limpasan, melainkan sumber daya strategis yang dapat diolah menjadi air bersih layak pakai.

Dalam kegiatan tersebut, siswa dan guru pendamping mendapatkan penjelasan mengenai tahapan pengelolaan air hujan, mulai dari proses penangkapan melalui atap bangunan, penyaringan awal, penyimpanan, hingga sistem filtrasi lanjutan agar air aman digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Penjelasan disampaikan secara aplikatif agar mudah dipahami oleh peserta didik tingkat sekolah menengah pertama.

Selain aspek teknis, mereka juga diperkenalkan pada prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan air. Pemanfaatan air hujan dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap air tanah, sekaligus menjadi solusi adaptif terhadap perubahan iklim dan potensi krisis air bersih di masa mendatang.

“Kondisi air tanah saat ini mengalami penurunan baik dari segi kualitas maupun kuantitas akibat eksploitasi yang berlebihan dan berkurangnya daerah resapan. Karena itu, praktik pemanfaatan air hujan semakin luas perlu diterapkan,” tandas Wahyuningsih.

Kegiatan tersebut sekaligus menegaskan bahwa edukasi lingkungan berbasis praktik nyata memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Pengelolaan air hujan yang aman dan berkelanjutan menjadi salah satu solusi konkret dalam menjaga ketahanan air sekaligus kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)