Sambut Ramadhan 2026 Sehat, Komunitas Seroja Banyuraden Edukasi Penggunaan Obat

  • Jan 18, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Kesehatan

Sleman – Menyiapkan bekal pengetahuan menyambut bulan suci Ramadhan menjadi hal penting bagi masyarakat, khususnya terkait penggunaan obat-obatan saat menjalankan ibadah puasa. Pemahaman yang tepat diperlukan agar terapi pengobatan tetap efektif tanpa mengganggu kewajiban berpuasa.

Hal tersebut disampaikan oleh Apoteker Fauziah Ramadhani dalam kegiatan edukasi kesehatan yang digelar komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Minggu (18/1/2026). Forum ini diikuti oleh warga sekitar dengan antusias, sebagai bagian dari persiapan menyambut Ramadhan 2026 secara sehat dan bertanggung jawab.

Dalam pemaparannya, Apoteker Fauziah menekankan bahwa puasa tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan pengobatan secara sepihak. Menurutnya, banyak pasien yang masih keliru dengan menghentikan atau mengubah jadwal minum obat tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, yang justru berisiko memperburuk kondisi kesehatan.

Ia menjelaskan bahwa pada prinsipnya, sebagian besar obat tetap dapat dikonsumsi saat puasa dengan penyesuaian waktu, yakni saat sahur dan berbuka. Namun, penyesuaian tersebut harus mempertimbangkan jenis obat, dosis, serta interval waktu konsumsi agar khasiat obat tetap optimal.

Lebih lanjut, Apteker Fauziah menguraikan beberapa kategori obat yang perlu perhatian khusus saat puasa, seperti obat untuk penyakit kronis, antibiotik, serta obat yang harus diminum lebih dari dua kali sehari. Untuk kasus tertentu, diperlukan konsultasi dengan dokter atau apoteker guna menentukan alternatif terapi yang aman.

Adapun pengaturan waktu minum obat 1 x sehari diminum pada waktu yg sama setiap hari, bisa saat buka maupun sahur dengan memperhatikan efek obatnya. Jika 2 x sehari, obat dapat diminum saat buka dan sahur.

“Apabila obat diminum 3 x sehari, jika obat dapat diganti dengan yang lain dengan efektivitas yang sama, mintalah diganti menjadi yang 1x atau 2x sehari. Namun, jika tidak bisa diganti maka obat diminum pada jam 18.00, 23.00, dan 04.00,” jelas Apoteker Fauziah.

Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang beredar di media sosial terkait mitos penggunaan obat saat puasa. Edukasi berbasis ilmu kefarmasian dinilai penting agar masyarakat tidak salah mengambil keputusan yang dapat membahayakan kesehatan.

Yang tak kalah penting, tubuh memerlukan vitamin saat berpuasa karena dapat menjaga daya tahan tubuh, dan membantu tubuh tetap bugar saat puasa. Adapun waktu terbaik minum vitamin yaitu pada saat sahur dan berbuka puasa setelah makan karena jika diminum saat perut kosong dapat menyebabkan mual. 

“Pilih vitamin sesuai kebutuhah, tidak harus semuanya. Vitamin boleh diminum tetapi jangan menggantikan makanan dengan vitamin,” tandas Apoteker Fauziah mengingatkan.

Forum ini juga membahas perbedaan antara obat yang membatalkan puasa dan yang tidak, sesuai dengan kaidah medis dan pandangan keagamaan yang umum digunakan. Pemahaman tersebut diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa tanpa rasa khawatir.

Melalui kegiatan di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden ini, masyarakat diharapkan memiliki bekal pengetahuan yang memadai dalam menyambut Ramadhan 2026 dengan kondisi tubuh yang sehat. Dengan pemahaman yang benar mengenai penggunaan obat saat puasa, ibadah dapat dijalankan secara optimal tanpa mengorbankan kesehatan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)