Tiga Tingkatan Puasa Jadi Sorotan Dalam Safari Tarawih MWCNU Gamping
- Mar 02, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Keagamaan
Sleman — Kegiatan safari tarawih keliling yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gamping pada Senin (2/3/2026) berlangsung khidmat di Masjid Al-Bilal, yang berlokasi di Banyuraden, Gamping, Sleman. Acara ini menghadirkan tausiah utama dari Rois Syuriah, KH. Ahmad Mabarun yang menekankan pentingnya memahami tingkatan orang dalam menjalankan ibadah puasa.
Dalam ceramahnya, KH. Ahmad Mabarun menjelaskan bahwa puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi memiliki dimensi spiritual yang bertingkat. Ia menyoroti bahwa kualitas puasa seseorang sangat ditentukan oleh kesadaran dan pengendalian diri terhadap seluruh anggota tubuh, termasuk hati dan pikiran.
Menurutnya, terdapat tiga tingkatan utama dalam berpuasa. Tingkatan pertama adalah puasa umum (shaumul umum). Level puasa ini adalah yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang atau sudah menjadi kebiasaan umum, yaitu menahan diri dari makan, minum, bercampur dengan istri (jima’) dan lain-lain, sebagaimana telah diperintahkan kepada kita untuk menahannya.
Tingkatan kedua disebut sebagai shaumul khushus atau puasanya orang-orang spesial. Mereka berpuasa lebih dari sekadar untuk menahan haus, lapar dan hal-hal yang membatalkan. Tapi mereka juga berpuasa untuk menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan segala anggota badannya dari perbuatan dosa dan maksiat.
“Mulutnya bukan saja menahan diri dari mengunyah, tapi juga menahan diri dari menggunjing, bergosip, apalagi memfitnah. Kalau zaman sekarang, mungkin termasuk juga menahan jari-jarinya agar tidak menyebarkan berita-berita bohong atau hoax,” jelas KH. Mabarun.
Sedangkan tingkatan ketiga adalah shaumul khushusil khushus. Mereka tidak saja menahan diri dari maksiat, tapi juga menahan hatinya dari keraguan akan hal-hal keakhiratan. Menahan pikirannya dari masalah duniawi, serta menjaga diri dari berpikir kepada selain Allah. Standar batalnya puasa bagi mereka sangat tinggi, yaitu apabila terbersit di dalam hati dan pikirannya tentang selain Allah, seperti cenderung memikirkan harta dan kekayaan dunia.
“Puasa kategori level ketiga ini adalah puasanya para nabi, shiddiqin dan muqarrabin, sementara di level kedua adalah puasanya orang-orang shalih,” lanjut KH. Mabarun.
KH. Mabarun mengingatkan jama’ah, tanpa pemahaman terhadap tingkatan tersebut, ibadah puasa berpotensi kehilangan makna substansialnya. Puasa bisa saja hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa memberikan dampak signifikan terhadap perubahan perilaku. Sehingga perlu adanya muhasabah atau evaluasi diri selama bulan Ramadan.
Harapannya, setiap individu mampu menilai sejauh mana kualitas puasanya dan berupaya meningkatkannya dari tahun ke tahun. Pemahaman tentang tingkatan puasa diharapkan tidak hanya berhenti pada tataran teori, tetapi mampu diwujudkan dalam praktik ibadah yang lebih berkualitas. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)