Workshop Pengelolaan Air Hujan SAH Banyu Bening Sleman Dorong Kemandirian Air Masyarakat Gunungkidul

  • Jun 15, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Pemberdayaan

Sleman — Pengelolaan dan pemanfaatan air hujan menjadi salah satu solusi penting dalam menghadapi tantangan ketersediaan air bersih, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air. Kesadaran tersebut mendorong penyelenggaraan Workshop Management Pengelolaan dan Pemanfaatan Air Hujan yang digelar Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) bekerja sama dengan Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman di Balai Padukuhan Kasihan, Kalurahan Girisubo, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Senin (15/6/2026).

Kegiatan tersebut diikuti oleh 60 peserta dari berbagai unsur pemerintah kapanewon, perangkat kalurahan, Kepolisian Sektor, Komando Rayon Militer dan warga masyarakat setempat. Workshop dirancang sebagai sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai teknik pemanenan air hujan yang efektif, aman, serta berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun kegiatan produktif masyarakat.

Dalam pemaparannya, Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih mengatakan bahwa air hujan merupakan sumber daya alam yang melimpah namun masih belum dimanfaatkan secara optimal.

“Padahal, dengan sistem penangkapan, penyimpanan, dan pengolahan yang tepat, air hujan bisa menjadi alternatif sumber air bersih yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap air tanah maupun sumber air permukaan yang ketersediaannya semakin terbatas,” tandasnya bersemangat.

Materi yang diberikan Wahyuningsih menitikberatkan pada motivasi dan penjelasan tehnis terkait tekhnologi ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan) beserta elektrolisa air hujan agar masyarakat memahami dan segera mempraktikkan teknologi tersebut secara mandiri.

Selain aspek teknis, peserta workshop mendapatkan pemahaman mengenai manajemen pengelolaan air hujan yang mencakup perencanaan kebutuhan air, perawatan sarana penampungan, hingga pengelolaan kualitas air. Materi tersebut dinilai penting agar sistem pemanenan air hujan yang dibangun masyarakat dapat berfungsi secara berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang.

Sementara itu, Jawatan Kemakmuran Girisubo, Tri Murjoko menyampaikan bahwa perubahan iklim telah memengaruhi pola curah hujan di berbagai daerah. Oleh karena itu, masyarakat perlu didorong untuk memiliki kemampuan beradaptasi melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih bijaksana. Pemanfaatan air hujan dinilai menjadi salah satu bentuk adaptasi yang dapat diterapkan secara sederhana namun memberikan dampak yang signifikan.

“Air hujan merupakan sumber daya hayati utama bagi masyarakat Gunungkidul khususnya warga Balong, sehingga perlu dikelola dengan baik dan dimanfaatkan secara bijak,” tegasnya.

Melalui forum ini, Murjoko berharap agar masyarakat mampu memahami bahwa air hujan bukan sekadar air yang jatuh dan terbuang begitu saja, melainkan aset penting yang dapat dikelola untuk meningkatkan ketahanan air keluarga dan komunitas. Semakin banyak warga yang menerapkan teknologi pemanenan air hujan, semakin besar pula peluang terciptanya kemandirian air di tingkat lokal.

Kegiatan tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat kapasitas masyarakat menghadapi tantangan krisis air di masa depan. Kolaborasi antara Yayasan KEHATI dan Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman diharapkan dapat menginspirasi lahirnya gerakan pengelolaan air hujan yang lebih luas, sehingga pemanfaatan sumber daya air dapat berlangsung secara berkelanjutan demi mendukung kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)