SAH Banyu Bening Sleman Perkuat Kapasitas Fasilitator Gunung Kidul Kelola Air Hujan

  • Jul 21, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Lingkungan Hidup

Sleman — Pentingnya peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya air secara mandiri menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan Training of Facilitator (ToF) pembuatan dan perawatan Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH) beserta Elektrolisa Air Hujan. Kegiatan yang dilakukan Yayasan Mutiara Banyu Langit yang bersinergi dengan Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman tersebut berlangsung di Ruang Rapat Kalurahan Balong, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Selasa (21/7/2026).

Pelatihan atas dukungan pendanaan hibah tetap dari Yayasan KEHATI tersebut menjadi langkah strategis untuk memperluas pemahaman dan keterampilan fasilitator dalam mengembangkan sistem pemanfaatan air hujan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan di tengah masyarakat. Melalui ToF, peserta mendapatkan pengetahuan teknis, sekaligus dipersiapkan agar mampu meneruskan pengetahuannya kepada kelompok masyarakat di wilayah masing-masing.

Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih mengatakan, bahwa pemanfaatan air hujan merupakan salah satu alternatif yang dapat dikembangkan untuk memperkuat ketahanan air masyarakat. 

“Air hujan yang selama ini kerap dianggap sebagai limpasan yang harus segera dibuang, dapat dikelola dan dimanfaatkan melalui sistem yang tepat sehingga memberikan manfaat bagi kebutuhan masyarakat,” tandasnya.

Menurut Wahyuningsih, keberadaan ISLAH menjadi bagian penting dalam upaya membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menampung, menyimpan, merawat, dan memanfaatkan air hujan. Sistem tersebut diharapkan dapat menjadi solusi sederhana dan aplikatif dalam menghadapi persoalan ketersediaan air, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air atau menghadapi kekeringan pada musim kemarau.

Pada sesi pertama, materi tentang ISLAH diberikan oleh Halik Sandera, yang menjelaskan secara rinci tentang mekanisme kerja sistem ISLAH, bahan-bahan yang diperlukan dalam proses instalasi, serta teknik perawatan. Teori yang disampaikan secara komprehensif mencakup prinsip kerja sistem, kebutuhan material, teknik pemasangan, hingga prosedur perawatan agar sistem tetap berfungsi secara optimal. Selain itu, diberikan juga pemahaman mengenai proses filtrasi sederhana sebagai langkah penting untuk menjaga kualitas dan higienitas air hujan sebelum dimanfaatkan.

Di sesi kedua, peserta melakukan praktik lapangan secara langsung. Materi praktik meliputi pemasangan instalasi ISLAH, revitalisasi sistem ISLAH yang telah ada, serta praktik perawatan alat elektrolisa air hujan. Pendampingan langsung dari para narasumber memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami setiap tahapan secara aplikatif sehingga mereka memiliki bekal yang memadai untuk mengimplementasikan teknologi tersebut di lingkungan masing-masing.

Dalam kegiatan tersebut, peserta yang merupakan perwakilan dari seluruh padukuhan di Kalurahan Balong juga mendapatkan pembekalan mengenai teknologi elektrolisa air hujan yang disampaikan Sri Wahyuningsih. Pengetahuan yang membahas prinsip kerja alat elektrolisa, kebutuhan bahan dan peralatan, serta langkah-langkah perawatan untuk memastikan alat dapat digunakan secara berkelanjutan ini menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat untuk memahami pengolahan air secara lebih baik, sekaligus meningkatkan kemampuan fasilitator dalam memberikan edukasi yang tepat dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

“Keberhasilan pengelolaan air hujan tidak hanya bergantung pada teknologi, melainkan pada perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat. Karena itu, fasilitator memiliki peran penting sebagai penggerak yang mampu menjembatani pengetahuan teknis dengan kebutuhan masyarakat di lapangan,” tegasnya.

Kegiatan ini sekaligus memperkuat semangat kolaborasi dalam membangun ketahanan air berbasis potensi lokal. Dengan mengoptimalkan air hujan melalui teknologi yang tepat guna, edukasi berkelanjutan, dan keterlibatan masyarakat, pengelolaan sumber daya air dapat dilakukan secara lebih mandiri, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)